Balapan Mendebarkan yang Kurang Greget

loading…

Gran Turismo memberikan tontonan balapan yang seru dan menegangkan. Tapi, secara plot dan cerita, film ini tidak terlalu menjanjikan karena kurang pendalaman. (Foto: IGN)

Gran Turismo menampilkan aksi balapan seru yang mendebarkan. Mobil-mobil cepat tampil di film ini dengan pengendara yang tak kenal takut untuk berbuat kotor demi mencapai kemenangan. Namun, film ini mengangkat kisah nyata seorang pembalap underdog yang harus membuktikan dirinya.

Awalnya, Gran Turismo adalah sebuah simulasi balap. Para pemainnya bersaing menjadi yang tercepat di sirkuit di seluruh dunia secara virtual. Di dunia nyata, para gamer ini bukanlah pembalap profesional. Salah satunya adalah Jann Mardenborough.

Jann menghabiskan waktu luangnya untuk balapan virtual itu. Baginya, balapan di dunia virtual bisa memuaskan keinginannya untuk menjadi pembalap yang tidak disetujui ayahnya, seorang mantan pemain bola untuk Cardiff City. Sampai suatu hari, kesempatan langka datang. Dia terpilih masuk Akademi Gran Turismo.

Begitu masuk Akademi, Jann akhirnya mencicipi kerasnya balapan dunia nyata. Orang tidak bisa dengan seenaknya memulai lagi begitu mereka tabrakan atau melakukan kesalahan. Belum lagi pembalap seperti dirinya dianggap remeh dan disepelekan karena dicap sebagai pembalap amatiran.

Review Film Gran Turismo: Balapan Mendebarkan yang Kurang Greget

Foto: Autosport

Namun, Jann menjawab semua keraguan itu dengan selalu berusaha tampil gemilang di setiap lintasan. Awal-awal dia memang kesulitan. Tapi, begitu dia bisa menguasai dirinya, Jann bisa diandalkan. Terlebih, Jann punya mentor yang luar biasa, Jack Salter.

Para penyuka game Gran Turismo akan diajak untuk tahu seperti apa Akademi GT itu. Penonton biasa yang tidak tahu seperti apa game tersebut juga tidak perlu khawatir karena film ini dengan gamblang menjelaskan apa itu Gran Turismo dan lain sebagainya. Balapan yang dihadirkan juga seru.

Balapan yang dihadirkan lumayan bikin tegang dari awal sampai akhir. Karena pembalapnya adalah underdog dan tidak berpengalaman, adrenaline-nya jadi lebih tinggi dari biasa. Orang akan terus berharap kalau Jann memenangkan setiap pertandingan yang dia ikuti.

Review Film Gran Turismo: Balapan Mendebarkan yang Kurang Greget

Foto: YouTube

Sepanjang film, Jann tidak terlalu memperlihatkan perkembangan karakter. Sejak awal, dia sudah diperkenalkan sebagai anak keras kepala yang tidak mudah menyerah. Ini membuat hubungannya dengan keluarganya, terutama ayahnya, memburuk. Ayahnya ingin agar Jann mengikuti jejaknya sebagai pemain sepak bola.

Sayangnya, konflik antara Jann dan ayahnya ini tidak dieksplorasi dengan lebih dalam. Alih-alih, film ini malah memasukkan karakter Audrey, cewek yang ditaksir Jann. Padahal, kehadiran Audrey sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi Jann. Tidak ada drama dan hambar saja hubungannya.

Di film itu, Jann sempat mengalami krisis kepercayaan diri dan ogah membalap lagi. Tapi, hal yang memotivasinya bukan keraguan orang tuanya, melainkan kecelakaan yang dia alami dan menewaskan satu orang penonton. Bagi sejumlah orang, ini terasa mengganggu dan kurang dramatis. Akan lebih dramatis kalau ayahnya adalah alasannya untuk tetap unjuk gigi.

Review Film Gran Turismo: Balapan Mendebarkan yang Kurang Greget

Foto: The Independent

Sementara Archie Madekwe berusaha keras untuk memerankan karakter Jann dengan sebaik mungkin, Orlando Bloom yang berperan sebagai Danny Moore, sales Nissan, malah muncul seperti orang kikuk yang terlihat tidak pernah yakin dengan apa yang dia lakukan. Tentu, dia adalah karakter pendamping di sini, tapi, dia adalah pencetus ide Akademi GT dan seharusnya karakternya bisa jauh lebih baik.

Di sisi lain, David Harbour dengan baik memerankan Jack Salter. Dia mampu menampilkan sosok Jack yang sarkastis, angkuh, dan suka meremehkan orang lain. Tapi, dia juga sebenarnya seorang yang rapuh karena trauma masa lalu. Sebagai orang di usianya, dia juga pas karena tidak terlalu mengikuti teknologi. Jack suka mendengarkan musik dari Walkman tua dengan kaset sebagai sumber musiknya.

Djimon Hounsou yang berperan sebagai Steve Mardenborough, ayah Jann, juga tampil memukau. Sayangnya, porsi tampilnya yang tidak banyak di film ini, membuat karakternya seolah terlupakan. Padahal, dia bisa menjadi sumber drama terbaik dalam perjalanan karier Jann.

Review Film Gran Turismo: Balapan Mendebarkan yang Kurang Greget

Foto: Jalopnik

Kalau bukan karena faktor balapannya, Gran Turismo sepertinya tidak akan menjadi film yang menarik. Neil Blomkamp, sutradaranya, sepertinya banyak mengambil inspirasi drama di sirkuit dari film seperti Ford vs Ferrari dan juga Le Mans. Film ini juga menampilkan balapan Le Mans, jadi bukan sesuatu yang mengejutkan kalau ada penampilan sirkuit tersebut.

Gran Turismo mengadaptasi cerita nyata Jann Mardenborough yang seharusnya menginspirasi banyak orang. Tapi, ceritanya yang kurang mendalam dan tambahan subplot yang tidak penting membuat ceritanya jadi kurang greget. Balapannya memang seru, tapi drama di luar arenanya kurang mendukung.

Gran Turismo memberikan tontonan balapan yang seru dan menegangkan. Tapi, secara plot dan cerita, film ini tidak terlalu menjanjikan karena kurangnya pendalaman. Film ini masih seru buat ditonton bagi yang memang suka tontonan pemicu adrenaline.

Gran Turismo sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia pada hari ini, Rabu (23/8). Film ini berdurasi 2 jam 15 menit dengan rating penonton 13 tahun ke atas. Selamat menyaksikan!

(alv)

6 Penyebab Game Tanah Air Kurang Berkembang

loading…

Direktur Aplikasi, Permainan, Televisi dan Radio Kemenparekraf, Iman Santosa. (Foto: Tangguh Yudha)

JAKARTA – Pasar industri game di Indonesia sangat besar. Bahkan, market share-nya disebut-sebut mencapai Rp25 triliun. Ironisnya, konsumsi game lokal masih sangat kecil. market game lokal Indonesia masih di angka 0,81 persen.

Direktur Aplikasi, Permainan, Televisi dan Radio Kemenparekraf, Iman Santosa mengungkap kondisi ini akibat sederet masalah yang dihadapi para pengembang game Tanah Air.

Menurut dia, masalah paling utama adalah belum terbentuknya ekosistem yang ideal sehingga masih sangat sulit mendukung pengembang industri game nasional.

Iman juga menyebut stagnasi pasar nasional juga turut berperan dalam menghambat perkembangan game lokal. Selain itu, adanya kegagalan produksi, karena kurangnya dana, kurang SDM, dan masalah teknis juga ikut andil.

Terakhir, Iman menyebut sampai saat ini belum ada kesatuan gerak antara stakeholder untuk memajukan industri game lokal. Menurutnya, para stakeholder masih sibuk mengejar target masing-masing, alih-alih menggapai tujuan bersama.

“Jadi enggak pernah ketemu, enggak pernah jalan karena masing-masing stakeholder punya targetnya sendiri-sendiri. Jadi, marilah kita menyamakan langkahnya. Untuk melakukan ini, butuh Perpres agar semua berjalan beriringan,” katanya.

Iman menjelaskan, di dalam Perpres seluruh stakeholder akan diberi tugas sesuai porsi masing-masing. Kemenparekraf akan mengembangkan 3.000 SDM dan infrastruktur pendukung, sementara yang lain akan memastikan perangkat keras didistribusikan dengan baik.

Iman mengungkap jika seluruh stakeholder bisa berjalan beriringan, maka industri game lokal akan moncer. Dari sini ada potensi yang sangat besar, mengingat game punya peran yang sangat besar dalam perputaran ekonomi.

(msf)